Makassar… Kota Paru Basah

July 24th, 2007 by budi-lie

Makassar, Kota Palu Basa…

Biasa aja… Itu kesan pertama saat gue memandang kota Makassar dari jendela taksi yang mengantar rombongan gue ke Hotel Aryaduta. Di sana sini masih lumayan banyak infrastruktur kota yang masih dalam tahap pembangunan. Hampir aja gue tertidur kalo aja tidak ada bangunan kelenteng yang mengundang rasa ingin tahu gue. Oi, ternyata daerah yang baru gue lewati adalah china town-nya Makassar. Sekelompok anak bermain dengan riang di depan ruko yang sepi, sementara di ujung jalan yang lain terlihat a cek – a cek duduk di depan rumahnya dengan sebatang rokok di tangan. Ahh… lumayan terasa suasana santai di setiap sudut kota, walau belum kayak Djogja saat gue masih kuliah di sono.

Hmm… sajian apel, jeruk, pear dan pisang terlihat di meja tamu di ruangan bernomor 628 tempat gue menghabiskan 7 malam bersama dengan atasan gue. Aha… Sajian standar yang biasanya hanya ditawarkan oleh hotel berbintang lima. Ngg… Kalo begitu, tentunya spa… sauna… dan massage…, dalam sekejap jari gue udah menekan tuts telepon ke receptionist. Gue udah membayangkan, betapa nikmatnya bersama rombongan ngobrol di kolam spa dan bercana ria di bilik sauna. Betapa kecewanya gue saat pihak hotel mengatakan tidak ada fasilitas spa dan sauna. Hanya ada kolam renang kecil dan massage yang hanya dilayani ibu-ibu yang udah tua… Wew…! Dan… Lengkaplah kekecewaan gue saat mengetahui bahwa layanan WiFi di lobby hotel juga tidak ada, alias harus bayar. Macam mana pula hotel berbintang lima ini? Barulah gue mengerti, setelah dijelaskan panitia, ternyata keabsahan status bintang lima di Imperial Aryaduta Hotel (begitu tertulis di halaman depan) di Makassar belom jelas. Weleh… pantes aja, emang tidak terlihat logo bintangnya di setiap item yang bertuliskan Aryaduta Hotel. Tetapi untuk pelayanan yahng lain, hotel ini udah setingkat dengan hotel bintang lima yang lain.

Gue ndak akan cerita meeting dan acara gue selama di sono, tetapi ada satu yang pengen gue share ke teman-teman, yaitu seminar motivasi yang dibawa oleh Mario Teguh, salah seorang motivator terkemuka di Jakarta. Beliau bilang, “Berfokuslah pada keinginan yang satu untuk memenuhi keinginan yang lain”. Gue jadi teringat sobat gue, Kandar (Hi, Bro… dah lebih 10 hari kita ndak keluar bareng), yang pengen menulis novel sebelum tahun 2008 berakhir. Yakin deh, lo pasti bisa. Si Mario juga bilang, target pribadilah yang menjadi tolok ukur, bukan target perusahaan, so…. You must ready to fail “BIG”! Ndak apa2 kalo you don’t love your job, but the most important is, you love what you do! Intinya adalah work hard, no matter you’re not smart! (kayaknya lo dah smart deh, so tunggu apalagi, Bro?)

Oh ya, ada satu lagi nih, pengalaman yang sungguh2 tak terlupakan saat berada di sebuah pulau (gue lupa namanya) yang berjarak ½ jam dari Kota Pelabuhan Losari. Saat lagi outbond sesi terakhir, salah satu jari kaki gue mnyentuh bulu babi… Walann… sakitnya minta ampun! Herannya, obat yang paling mujarab adalah, memukul kuat ke arah bekas tusukannya agar duri sempat masuk menjadi hancur di dalam. (semula gue ndak percaya sama sekali bisa sembuh dengan cara kayak gibi). Sampai jari kaki gue berangsur2 tidak sakit hanya dalam waktu 1-2 jam, gue baru bener2 percaya. Bekas yang tadinya berbentuk memanjang, saat itu menjadi bulat, yang menandakan duri yang telah hancur. Besoknya udah ndak ada jejak lagi. Bener2 bersih dan bebas dari sakit! Percaya ndak lo, Dar? 

Selebihnya, ndak ada yang menarik untuk diceritaiin. Paling-paling, yang menarik perhatian gue adalah saat malam minggu, dimana banyaaaak banget masyarakat yang berduyun-duyun menuju pelataran Pelabuhan Losari. Kayaknya lebih dari setengah penduduk Makassar hadir di sono. Ada yang bergerombol, ada yang bersama keluarga, dan paling banyak yang berpacaran  Sial banget, kamera ixus i7 gue rusak, padahal baru diambil 2 bulan lalu. Shit!

Kayaknya udah deh, yang pengen gue sampaiin. Dah ngantuk! Kalo ada kota lain yang layak diceritaain saat gue dinas, pasti gue comment deh!!

See ya, dan tetep semangat !!!!

“Boring” Membawa Nikmat

June 1st, 2007 by budi-lie

“Sial!!”, gue menggerutu dalam hati tatkala call centre-nya Garuda bilang untuk ke-4 kalinya, tiket belum bisa dimajuin satu hari, padahal jam telah menunjukkan pukul tiga, tiga setengah jam sebelum keberangkatan ke Medan. Seharusnya gue udah tahu, apa mungkin peak season begini, ada orang yang cancel-in tiketnya, sementara ada 20 orang yang nasibnya sama dengan gue? Sama2 ngantri, man…!!! Walaupun gue punya frequent flyer-nya Garuda, tetap aja ndak bisa hari ini. Wewww…!! Pengennya pulang sehari sebelum perayaan Waisak, jadinya tambah satu hari di Banda Aceh. Ngapain yah??

Walau Bang Sonny, pengelola bengkel Honda di jalan TP Polem dah ngijinin gue numpang barang satu malam di mess, tetep gue merasa lebih enak kalo pulangnya sore ini aja. Ya udah, ketimbang ndak ngapa-ngapain, gue mau aja diajak ikut perayaan Waisak di salah satu wihara di sono. Lumayanlah, bisa cuci-cuci mata. Hehehehe… Nyatanya, lumayan tuh cewek-cewek banda…., putih-putih tuh! Ada satu cewek yang gue perhatiin terus waktu acara pradaksina, semacam prosesi mengelilingi tempat-tempat yang telah ditandain sambil memegang lilin. Cuaaantik banget deh! Eh…. Die berani juga tuh bales pelototin gue berkali-kali, saat gue mencuri-curi pandang di tengah-tengah keremangan cahaya lilin. Sial! Kebiasaan buruk untuk berpaling muka pada akhirnya terjadi juga. Oh, Tuhan….

Besoknya, gue diajak lagi ke pantai. Pertama sih males!! Gue pikir, pantainya mesti amburadul abis diterjang tsunami kayak di Lok Nga. “Ah, lo ikut dulu aja, ini pantai terindah yang gue pernah liat di sini”. Begitu komentar Jimmy, kasir di bengkelnya pimpinan Bang Sonny. Panas banget bok….selama perjalanan… abis ndak kepikiran bawa jaket ke Banda.

Menjelang sampe ke tujuan, gue melihat ada gapura yang dibangun pake granit dan salah satu tulisan berbunyi ”…Turkey…” (hehe..tulisan lain lupa, tapi di situ jelas berarti dibangun atas bantuan Negara Turki, ketika kampung ini dulunya abis 100% disapu tsunami). Mulailah terlihat rumah demi rumah bertype 32-36 di sepanjang jalan menuju pantai. Masing-masing rumah berhalaman, dan dibangun tidak berdempetan satu dengan yang lain. Uniknya, setiap rumah, terdapat lambang negara Turki, dan setiap kelokan jalan ada namanya. Semua plang nama jalan juga dibuat identik dengan warna bendera Turki. Ada juga mesjid rayanya, lengkap dengan sekolah untuk anak-anak di sono. Keren, man…… Gue tanya ke Jimmy, udah berapa lama rumah-rumah tsb selesai dibangun? Gue geleng-geleng aja saat Jimmy bilang dah berbulan-bulan, dan belum tahu siapa penerima bantuan tersebut. Gue pikir…. koq rumah gratisan kayak gini aja susah diberikan? Weleh…weleh…. Buka mata dan hatimu donk pemerintah!

Yah….setidaknya hati agak tenang setelah menyaksikan hamparan pasir putih di hadapan gue…….. Ternyata …….. pemandangan pasirnya nyaris sama dengan yang ada di Pantai Kukup-nya Djogja…. Di horizon, lautnya bener2 biru tua…..terus makin ke tepi birunya makin memudar ke biru muda, dan semakin mendekati bibir pantai, warnanya biru kehijauan yang sangat halus, sangat muda…. Dan…di sebelah kiri, terdapat tebing yang berlobang-lobang dan terjal……. Wawww…!!! Kereeennn banget…!!! Sayangnya, gue ndak bawa celana ganti, dan emang CD gue tinggal satu-satunya yang melekat di pantat ini. Hehehe…semua CD dan pakaian ganti dah kotor. Maklumlah…. dinas di Banda selama 6 hari hanya satu kali laundry. Hanya Bang Sonny dan Jimmy aja berenang dan berlompatan di antara deburan ombak. Belum lengkap rasanya kalo momen2 itu tidak diabadikan dengan foto….jadinya gue minta difoto sebanyak-banyaknya. Hehehe……

Tak terasa hari semakin sore, hingga gue harus cepet-cepet angkat kaki dari pantai yang bernama BABA 2 ini. Setelah maem soto di Lok Nga dan sempetin beli oleh-oleh di Banda, gue berangkat ke Bandara SIM, airportnya Sultan Iskadar Muda, hehehehe….

Saat duduk di cafe sambil ngemil dan baca Novel Senopati Pamungkas, ada bule yang numpang duduk tuh. Cowok Australia 32 tahun, seorang civil engineer di UNICEF dan telah bertugas 1,5 tahun di Banda…. Lumayanlah…basa-basi sebentar sambil nguji bahasa inggrisnya gue….. hehehe…… Pusing-pusing tuh doi, dengerin vocab inggris gue yang ke-hokkien-hokkien-an, hingga panggilan untuk segera boarding ke pesawat GA 197 tujuan Jakarta, membuat doi bernapas lega untuk tidak mendengar omongan gue lagi… Huauhahauha…..

Yah, emang dasar nasib sore menjelang malam ini, gue deket-deket dengan bule terus. Gue diapit oleh 2 cewek bule yang usianya mungkin 10 tahun lebih tua dari gue. Gue tiduran aja, males ajak ngomong lagi…….. Hanya membuka mata untuk sekedar nikmatin kopi plus roti yang diberikan pramugarinya yang …… walah….walah… sama tuanya dengan bule di samping gue.. Hewww….!! Gue tiduran lagi sampe ada panggilan ”……sebentar lagi….kita akan mendarat di Bandara Internaional Polonia – Medan….”.

Ok, son… saatnya pulang ke rumah …….  J

Mungkinkah Menghapus Kewarganegaraan Seseorang yang telah Meninggal 62 tahun yang lalu?

March 16th, 2007 by budi-lie

Jawabannya Mungkin !!

Baru-baru ini, seorang diktator "terkejam" yang pernah hidup di muka bumi ini, Adolf Hitler, tengah diusulkan untuk dicabut kewarganegaraannya oleh petinggi di Kota Brauncschweig. Kota yang berada di Jerman ini berupaya untuk menghapus kewarganegaraan Hitler melalui mosi yang telah diupayakan berkali-kali disetujui pemerintah.

Gila ya? Tapi yah begitulah…. Orang yang pernah dijuluki "iblis" kemungkinan besar bakalan dikejar-kejar terus menerus. Tidak jelas maksud dibalik semua ini, mungkin penguasa di Kota Brauncschweig berniat menghapus jejak yang pernah ditoreh Hitler di kota tersebut, sehingga bayang-bayang kekejian yang diciptakan seorang Hitler di kota itu bisa dilenyapkan. Yah, kayak tradisi menghilangkan suatu penyakit dengan membakar kertas berisi "mantera" lalu diminum. Ndak ada hubungannya kan? Kenangan akan tindakan seseorang seharusnya tidak bisa dihilangkan dengan cara demikian

Sepintas tentang Hitler, aku sih ndak begitu nguasain biografinya. Hanya saja, yang selalu terketuk di benakku adalah, salahkan tindakan Hitler yang merupakan pengompor Perang Dunia II? Kenapa dengan dia? Kalo ada yang bilang dia dirasuki iblis, atau dia dikirim oelh iblis untuk menguasai dunia, atau bla…bla…bla… kayak gitu, oooohh…c’mon man…. BULL SHIT!

Aku hanya yakin, sesuatu terjadi karena suatu sebab, sekaligus sebagai akibat dari sesuatu, atau bahkan keduanya. Hhhh…!

Pasca Perang Dunia I menjadikan negara Jerman sebagai penjahat perang dan harus membayar kerugian yang disebabkan perang tersebut. Ekonomi di Jerman saat itu hancur, melebihi yang pernah terjadi di Indonesia. Ada yang pernah bercerita bahwa saat itu, orang lebih memilih mengambil "keranjang" yang di dalamnya berisi penuh dengan Mark-nya Jerman, daripada mengambil "isinya". Bayangkan, man… keranjang bambu lebih berharga daripada setumpuk uang??

Adalah Hitler, yang mengambil kewarganegaraan Jerman di Kota Brauncschweig pada tahun 1932, yang sebelumnya berwarga negara Austria, terketuk nuraninya untuk memperbaiki keadaan Jerman pada saat itu. Yang jelas, dengan mengandalkan kedudukannya yang cukup tinggi dan elit di pemerintahan dan menguasai militer Jerman, Hitler berhasil melakukan kudeta dan mencapai kedudukan tertinggi di Jerman. Tapi, sayangnya, seiring keberhasilannya memulihkan keadaan di negerinya, ambisinya kian menjadi-jadi, dan puncaknya membuatnya menjadi arogan, diktator dan tanpa ampun.

Dari sini, aku tidak begitu tahu tentang sejarahnya. Yang jelas, setahun setelah kematiannya, di tahun 1946, Kota Brauncschweig mencoba untuk mencabut kewarganegaraannya, yang nyatanya, sampai sekarang tidak berhasil. "Mati ya mati…. Anda tidak bisa mengambil apa-apa lagi darinya!", begitulah komentar dari pejabat yang enggan menyebutkan namanya di Kementerian Kehakiman Lower Saxony.

Setuju…!!!!!

So, benarkah Hitler utusan dari "Iblis"?????

Bandingkan dengan penguasa kita, dari zaman kemerdekaan sampai sekarang !!!! :) Ada ndak persamaannya??

Moga aja, Indonesia tercinta kita ini ndak seperti Jerman di masa lalu, sehingga melengkapi nubuat yang pernah dibuat Jayabaya, bahwa akan lahir seorang "RATU ADIL" yang siap mengambil alih negara kita dari keterpurukan.

Who knows??

Note : Ingat, pernah ada pemberontakan Ratu Adil di Indonesia, lupa tuh kapan dan dimana, buka aja buku sejarah kelas 2 smp, edisi tahun 1993 :P

Idupin Lampu Motor at Sun Rise….

March 13th, 2007 by budi-lie

Weleh..weleh…. Setelah Kota-kota besar kayak Jakarte, Surabaya Pekanbaru, en Batam (cuman kota-kota ini yang aku kunjungin 3 bulan silam, yang lain ndak tahu), akhirnya…….. Kepolisian Medan menganjurkan untuk membuka lampu depan sepeda motor yang melintas di jalan seterang-terangnya bukan pada malam hari…

Aku sendiri baru tadi pagi, tepatnya tanggal 13 Maret, me-launch-ing policy baru ini sepanjang jalan dari rumah menuju kantor.. Sebenarnya ada gunanya ndak sih kayak gitu? Sepintas, emang rasa-rasanya kagak ada gunanya yach.. Tapi masak sih, orang-orang di kepolisian pada bego menyuruh tiap motor yang melintas di depan hidung mereka untuk membuka lampu?

Coba dipikir nih, kita macam ndak tahu perilaku berkendara roda 2 di Indonesia yang serrrram-pangan aja ( juga ada sih sebagian yang berkendara roda lebih dari 2 yang ugal2an kayak gitu). Terobos lampu merah dah biasa…., motor menyeberang dengan cuek dan santainya dah jadi pemandangan sehari-hari…, belum lagi supir yang tiap hari "terapi kejut" karna ada motor yang nyelonong tanpa suara di samping badan mobil (terang donk ndak ada suara.. kan ruangan ac, musik berdebum2 sampe terdengar pengendara motor yang berjarak 3 tombak dan ber-helmet full face). Ini belum termasuk pengendara angkot yang nyupir macam jalan moyangnya aja (kadang ke kiri-tengah-kanan, terus balik ke tengah-kiri-kanan, terus… itung aja sendiri combinasi angkanya pake rumus permutasi matematika).

Nah..kembali ke laptop…. Jadi maksudnya… menghidupkan lampu motor di waktu terang berguna banget di jalan. Bayangin saat kita nyupir nih, sambil dengerin lagu "Blind MAn"-nya Aerosmith pake subwoofer 10" - effect stereo X2, mata kita kemungkinan besar tetep bisa nangkep sensor cahaya dari spion yang terpantul dari cahaya lampu depan motor. so, kitanya pasti jadi carrefour, eh..maksudnya careful kan? Terus kalo dari arah depan, terkadang bisa aja ada motor yang tiba2 nyelonong (sebelumnya tak nampak, yang mungkin terhalang mobil lain), kita bisa lebih siap memperlambat laju kendaraan kita, atau menghindar, lantaran ada kontak antara mata dengan sensor cahaya (ingat kecepatan cahaya 300.000 km/detik, dan sudah cukup untuk mengetuk otak kita agar bertindak lebih cepat secara sadar)

Nah… udah tahu kan manfaatnya??? Maka…wahai para pengendara sepeda motor dua dimana pun anda berada, mulai lah dari sekarang untuk mendukung policy dari kepolisian indonesia, dengan membuka lampu depan motor anda. Sekedar info, sebenarnya kita ini dah ketinggalan jauh dari negara tetangga, Thailand. Semua unit sepeda motor nang kono wis rak ono saklar on-off untuk membuka lampu depan motor. Begitu motor distater atau diengkol, brmm…brrmm… instrumen lampu langsung hidup, bersamaan dengan derungan motor. Nah..loe..!!??!

Terus, mungkin ada yang nanya, mana buktinya?? Speak with data.. OK, tak kasih. Beberapa bulan yang lalu, saat gue menghadiri meeting keselamatan berkendara di Jakarta (gini-gini aku instruktur safety riding yang disertifikasi loh, hehehe..walalupun setelah ditraining, pernah jatuh 3 x… duh maluuunya…), ada diinfokan berdasarkan data dari kepolisian, bahwa terjadi penurunan kecelakaan yang disebabkan kendaraan bermotor sebesar 30% dibandingkan kondisi sebelum diberlakukan policy tersebut. Cukup gede loh pengaruhnya…..!! Sebagai bahan pertimbangan, dari data kepolisian juga (tidak termasuk yang tidak dilaporkan), setiap hari, sebanyak kira-kira 26 orang di Indonesia pada tahun 2003, mati di jalan. Waw…..!!!!

Gue sendiri, sekarang lagi belajar bersabar untuk mendahulukan mobil/motor/orang (kecuali binatang, hehehe…kidding..) agar lewat lebih dulu. Percaya deh, ini sangat membantu dalam melatih diri kita menuju keselamatan berkendara yang aman dan nyaman di jalan.

Akhirnya, renungan penutup untuk blog ini :

"Sudah berapa kali kah kita, atas kemauan sendiri, membiarkan orang lain melintas/melewati lajur kita lebih dulu, selama ini??"

SALAM….   :-)

Idupin Lampu Motor at Sun Rise….

March 13th, 2007 by budi-lie

Weleh..weleh…. Setelah Kota-kota besar kayak Jakarte, Surabaya Pekanbaru, en Batam (cuman kota-kota ini yang aku kunjungin 3 bulan silam, yang lain ndak tahu), akhirnya…….. Kepolisian Medan menganjurkan untuk membuka lampu depan sepeda motor yang melintas di jalan seterang-terangnya bukan pada malam hari…

Aku sendiri baru tadi pagi, tepatnya tanggal 13 Maret, me-launch-ing policy baru ini sepanjang jalan dari rumah menuju kantor.. Sebenarnya ada gunanya ndak sih kayak gitu? Sepintas, emang rasa-rasanya kagak ada gunanya yach.. Tapi masak sih, orang-orang di kepolisian pada bego menyuruh tiap motor yang melintas di depan hidung mereka untuk membuka lampu?

Coba dipikir nih, kita macam ndak tahu perilaku berkendara roda 2 di Indonesia yang serrrram-pangan aja ( juga ada sih sebagian yang berkendara roda lebih dari 2 yang ugal2an kayak gitu). Terobos lampu merah dah biasa…., motor menyeberang dengan cuek dan santainya dah jadi pemandangan sehari-hari…, belum lagi supir yang tiap hari "terapi kejut" karna ada motor yang nyelonong tanpa suara di samping badan mobil (terang donk ndak ada suara.. kan ruangan ac, musik berdebum2 sampe terdengar pengendara motor yang berjarak 3 tombak dan ber-helmet full face). Ini belum termasuk pengendara angkot yang nyupir macam jalan moyangnya aja (kadang ke kiri-tengah-kanan, terus balik ke tengah-kiri-kanan, terus… itung aja sendiri combinasi angkanya pake rumus permutasi matematika).

Nah..kembali ke laptop…. Jadi maksudnya… menghidupkan lampu motor di waktu terang berguna banget di jalan. Bayangin saat kita nyupir nih, sambil dengerin lagu "Blind MAn"-nya Aerosmith pake subwoofer 10" - effect stereo X2, mata kita kemungkinan besar tetep bisa nangkep sensor cahaya dari spion yang terpantul dari cahaya lampu depan motor. so, kitanya pasti jadi carrefour, eh..maksudnya careful kan? Terus kalo dari arah depan, terkadang bisa aja ada motor yang tiba2 nyelonong (sebelumnya tak nampak, yang mungkin terhalang mobil lain), kita bisa lebih siap memperlambat laju kendaraan kita, atau menghindar, lantaran ada kontak antara mata dengan sensor cahaya (ingat kecepatan cahaya 300.000 km/detik, dan sudah cukup untuk mengetuk otak kita agar bertindak lebih cepat secara sadar)

Nah… udah tahu kan manfaatnya??? Maka…wahai para pengendara sepeda motor dua dimana pun anda berada, mulai lah dari sekarang untuk mendukung policy dari kepolisian indonesia, dengan membuka lampu depan motor anda. Sekedar info, sebenarnya kita ini dah ketinggalan jauh dari negara tetangga, Thailand. Semua unit sepeda motor nang kono wis rak ono saklar on-off untuk membuka lampu depan motor. Begitu motor distater atau diengkol, brmm…brrmm… instrumen lampu langsung hidup, bersamaan dengan derungan motor. Nah..loe..!!??!

Terus, mungkin ada yang nanya, mana buktinya?? Speak with data.. OK, tak kasih. Beberapa bulan yang lalu, saat gue menghadiri meeting keselamatan berkendara di Jakarta (gini-gini aku instruktur safety riding yang disertifikasi loh, hehehe..walalupun setelah ditraining, pernah jatuh 3 x… duh maluuunya…), ada diinfokan berdasarkan data dari kepolisian, bahwa terjadi penurunan kecelakaan yang disebabkan kendaraan bermotor sebesar 30% dibandingkan kondisi sebelum diberlakukan policy tersebut. Cukup gede loh pengaruhnya…..!! Sebagai bahan pertimbangan, dari data kepolisian juga (tidak termasuk yang tidak dilaporkan), setiap hari, sebanyak kira-kira 26 orang di Indonesia pada tahun 2003, mati di jalan. Waw…..!!!!

Gue sendiri, sekarang lagi belajar bersabar untuk mendahulukan mobil/motor/orang (kecuali binatang, hehehe…kidding..) agar lewat lebih dulu. Percaya deh, ini sangat membantu dalam melatih diri kita menuju keselamatan berkendara yang aman dan nyaman di jalan.

Akhirnya, renungan penutup untuk blog ini :

"Sudah berapa kali kah kita, atas kemauan sendiri, membiarkan orang lain melintas/melewati lajur kita lebih dulu, selama ini??"

SALAM….   :-)