“Boring” Membawa Nikmat
Friday, June 1st, 2007“Sial!!”, gue menggerutu dalam hati tatkala call centre-nya Garuda bilang untuk ke-4 kalinya, tiket belum bisa dimajuin satu hari, padahal jam telah menunjukkan pukul tiga, tiga setengah jam sebelum keberangkatan ke Medan. Seharusnya gue udah tahu, apa mungkin peak season begini, ada orang yang cancel-in tiketnya, sementara ada 20 orang yang nasibnya sama dengan gue? Sama2 ngantri, man…!!! Walaupun gue punya frequent flyer-nya Garuda, tetap aja ndak bisa hari ini. Wewww…!! Pengennya pulang sehari sebelum perayaan Waisak, jadinya tambah satu hari di Banda Aceh. Ngapain yah??
Walau Bang Sonny, pengelola bengkel Honda di jalan TP Polem dah ngijinin gue numpang barang satu malam di mess, tetep gue merasa lebih enak kalo pulangnya sore ini aja. Ya udah, ketimbang ndak ngapa-ngapain, gue mau aja diajak ikut perayaan Waisak di salah satu wihara di sono. Lumayanlah, bisa cuci-cuci mata. Hehehehe… Nyatanya, lumayan tuh cewek-cewek banda…., putih-putih tuh! Ada satu cewek yang gue perhatiin terus waktu acara pradaksina, semacam prosesi mengelilingi tempat-tempat yang telah ditandain sambil memegang lilin. Cuaaantik banget deh! Eh…. Die berani juga tuh bales pelototin gue berkali-kali, saat gue mencuri-curi pandang di tengah-tengah keremangan cahaya lilin. Sial! Kebiasaan buruk untuk berpaling muka pada akhirnya terjadi juga. Oh, Tuhan….
Besoknya, gue diajak lagi ke pantai. Pertama sih males!! Gue pikir, pantainya mesti amburadul abis diterjang tsunami kayak di Lok Nga. “Ah, lo ikut dulu aja, ini pantai terindah yang gue pernah liat di sini”. Begitu komentar Jimmy, kasir di bengkelnya pimpinan Bang Sonny. Panas banget bok….selama perjalanan… abis ndak kepikiran bawa jaket ke Banda.
Menjelang sampe ke tujuan, gue melihat ada gapura yang dibangun pake granit dan salah satu tulisan berbunyi ”…Turkey…” (hehe..tulisan lain lupa, tapi di situ jelas berarti dibangun atas bantuan Negara Turki, ketika kampung ini dulunya abis 100% disapu tsunami). Mulailah terlihat rumah demi rumah bertype 32-36 di sepanjang jalan menuju pantai. Masing-masing rumah berhalaman, dan dibangun tidak berdempetan satu dengan yang lain. Uniknya, setiap rumah, terdapat lambang negara Turki, dan setiap kelokan jalan ada namanya. Semua plang nama jalan juga dibuat identik dengan warna bendera Turki. Ada juga mesjid rayanya, lengkap dengan sekolah untuk anak-anak di sono. Keren, man…… Gue tanya ke Jimmy, udah berapa lama rumah-rumah tsb selesai dibangun? Gue geleng-geleng aja saat Jimmy bilang dah berbulan-bulan, dan belum tahu siapa penerima bantuan tersebut. Gue pikir…. koq rumah gratisan kayak gini aja susah diberikan? Weleh…weleh…. Buka mata dan hatimu donk pemerintah!
Yah….setidaknya hati agak tenang setelah menyaksikan hamparan pasir putih di hadapan gue…….. Ternyata …….. pemandangan pasirnya nyaris sama dengan yang ada di Pantai Kukup-nya Djogja…. Di horizon, lautnya bener2 biru tua…..terus makin ke tepi birunya makin memudar ke biru muda, dan semakin mendekati bibir pantai, warnanya biru kehijauan yang sangat halus, sangat muda…. Dan…di sebelah kiri, terdapat tebing yang berlobang-lobang dan terjal……. Wawww…!!! Kereeennn banget…!!! Sayangnya, gue ndak bawa celana ganti, dan emang CD gue tinggal satu-satunya yang melekat di pantat ini. Hehehe…semua CD dan pakaian ganti dah kotor. Maklumlah…. dinas di Banda selama 6 hari hanya satu kali laundry. Hanya Bang Sonny dan Jimmy aja berenang dan berlompatan di antara deburan ombak. Belum lengkap rasanya kalo momen2 itu tidak diabadikan dengan foto….jadinya gue minta difoto sebanyak-banyaknya. Hehehe……
Tak terasa hari semakin sore, hingga gue harus cepet-cepet angkat kaki dari pantai yang bernama BABA 2 ini. Setelah maem soto di Lok Nga dan sempetin beli oleh-oleh di Banda, gue berangkat ke Bandara SIM, airportnya Sultan Iskadar Muda, hehehehe….
Saat duduk di cafe sambil ngemil dan baca Novel Senopati Pamungkas, ada bule yang numpang duduk tuh. Cowok Australia 32 tahun, seorang civil engineer di UNICEF dan telah bertugas 1,5 tahun di Banda…. Lumayanlah…basa-basi sebentar sambil nguji bahasa inggrisnya gue….. hehehe…… Pusing-pusing tuh doi, dengerin vocab inggris gue yang ke-hokkien-hokkien-an, hingga panggilan untuk segera boarding ke pesawat GA 197 tujuan Jakarta, membuat doi bernapas lega untuk tidak mendengar omongan gue lagi… Huauhahauha…..
Yah, emang dasar nasib sore menjelang malam ini, gue deket-deket dengan bule terus. Gue diapit oleh 2 cewek bule yang usianya mungkin 10 tahun lebih tua dari gue. Gue tiduran aja, males ajak ngomong lagi…….. Hanya membuka mata untuk sekedar nikmatin kopi plus roti yang diberikan pramugarinya yang …… walah….walah… sama tuanya dengan bule di samping gue.. Hewww….!! Gue tiduran lagi sampe ada panggilan ”……sebentar lagi….kita akan mendarat di Bandara Internaional Polonia – Medan….”.
Ok, son… saatnya pulang ke rumah ……. J